Tidak Cukup Hanya “Otak Encer”, Perlu 3 Hal Ini Bila Ingin Sukses

Serangkaian
persiapan ujian, mulai dari ulangan, ujian sekolah, try out, Ujian Nasional
(UN), Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) maupun Seleksi
Bersama Masuk PTN (SBMPTN) kini tengah dijalani oleh siswa di berbagai jenjang
pendidikan. Dalam bidang akademik, skor atau nilai yang didapat saat ujian
memang menjadi patokan keberhasilan untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi
favorit. Skor UTBK misalnya, semakin tinggi yang didapat, maka semakin mungkin
siswa dapat masuk ke PTN favorit. Walau begitu, orangtua maupun guru perlu
memahami bahwa skor yang tinggi atau keberhasilan tak hanya ditentukan oleh
kecerdasan otak anak. Sehingga, bila nantinya nilai yang didapat anak tak
sesuai target, bukan berarti anak tidak cerdas atau gagal.

Merangkum laman resmi Sahabat Keluarga
Kemendikbud, ada sejumlah fakta yang menyatakan bahwa untuk sukses, otak cerdas
saja tidaklah cukup.

  • Soft skill

Sebuah
penelitian dari Harvard University Amerika Serikat mengungkap, kesuksesan
seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis
(hard skill) saja, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh kemampuan mengelola diri
dan orang lain (soft skill). Menariknya, penelitian ini mendapati hard skill
akan menentukan kesuksesan seseorang sebanyak 20 persen saja. Sedangkan 80
persen kesuksesan didapat melalui soft skill. Melansir situs pencarian kerja
Indeed, soft skill bisa dikatakan sebagai ciri atau kepribadian. “Keterampilan
interpersonal” dan “keterampilan komunikasi” menjadi soft skill
yang paling banyak dicari di dunia kerja.

Beberapa soft skill lain juga diperlukan dalam
kesuksesan karier antara lain kemampuan kerja tim, ketekunan, mampu
beradaptasi, menghadapi konflik, fleksibilitas, kepemimpinan, penyelesaian
masalah, kreativitas, etos kerja, integritas, dan banyak lainnya. Umumnya,
perusahaan akan menilai soft skill melalui psikotes atau tes kepribadian dalam
seleksi pegawai. Itu sebabnya, banyak orang dengan nilai tinggi yang
kemungkinan tidak lolos seleksi karena gagal dalam psikotes. Psikotes tak hanya
menilai potensi akademik semata, namun juga menilai apakah calon karyawan
memiliki kepribadian serta nilai yang sejalan dengan perusahaan.

  • Pendidikan karakter

Bulletin
Character Educator yang diterbitkan oleh Character Education Partnership
mengungkap hasil studi yang dilakukan Marvin Berkowitz dari University of
Missouri-St. Hasil studi itu menunjukkan, motivasi siswa sekolah cenderung
meningkat dalam meraih prestasi akademik di sekolah-sekolah yang menerapkan
pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara aktif terlibat dalam pendidikan
karakter menunjukkan terjadi penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang
dapat menghambat keberhasilan akademik. Karakter merupakan ciri khas individu
yang ditunjukkan melalui cara bersikap, berperilaku, dan bertindak untuk hidup
dan bekerja sama, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Anak memiliki karakter baik akan menjadi orang dewasa yang mampu membuat
keputusan dengan baik dan tepat serta siap mempertanggungawabkan setiap
keputusan. Sudah semestinya sekolah sebagai institusi pendidikan dan orangtua
sebagai “guru” di rumah turut menanamkan karakter baik pada anak.

  • Kecerdasan emosi

buku berjudul
Emotional Intelligence and School Success karangan Joseph Zins (2001)
mengompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan
emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah.

Dalam buku itu dikatakan ada sederet faktor
risiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor risiko yang disebutkan
ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak tetapi pada lemahnya karakter.
Kelemahan karakter yang dimaksud antara lain kurangnya rasa percaya diri,
kurang memiliki kemampuan bekerja sama dengan teman, tidak suka bergaul,
rendahnya empati, dan kemampuan berkomunikasi yang minim. Pakar psikologi
Daniel Goleman menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang ternyata 80 persen
dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan
otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya dianggap
berisiko mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol
emosinya.

disadur dari laman : https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/16/18313421/tidak-cukup-hanya-otak-encer-perlu-3-hal-ini-bila-ingin-sukses?page=1

Penulis : Ayunda Pininta Kasih