SMKN 11 Bandung Siap Melaksanakan KBM Tatap Muka di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Penulis : Dini Irawati |

Editor   : Nurbani

 

Kota Bandung – Pro kontra pelaksanaan KBM secara tatap muka langsung di masa pandemi covid-19 di Indonesia hingga saat ini, masih terus bergejolak. Berbagai alasan logis yang melatarbelakangi berbagai pihak dalam mengambil keputusan apakah KBM di sekolah dapat dilakukan secara luring, daring atau kombinasi daring & luring. Kemdikbud sebagai  pemegang kebijakan  Pendidikan di Republik ini, sudah berupaya semaksimal mungkin dengan mengeluarkan berbagai peraturan dan keputusan terkait penyelenggaraan Pendidikan di masa pandemi covid-19. Yang paling terkini adalah Pemerintah Umumkan Penyesuaian Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, tanggal 7 Agustus 2020. Awalnya, kegiatan belajar tatap muka hanya boleh dilakukan di sekolah pada zona hijau, sekolah yang berada di zona kuning pun dibolehkan untuk melakukan KBM tatap muka dengan syarat harus ada izin berbagai pihak terkait dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Jauh sebelum terbitnya pengumuman resmi revisi 4 SKB tersebut, sejak awal Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti meminta pemerintah tidak gegabah untuk membuka sekolah di masa pandemi Covid-19. Terutama jika sekolah belum bisa menerapkan protokol kesehatan untuk menjamin keselamatan siswa. Retno menuturkan, KPAI telah melakukan pengawasan langsung ke 15 sekolah di jenjang SD, SMP, SMA/SMK di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan dan kota Bandung pada Juni 2020 yang lalu. Hasilnya, dari 15 sekolah hanya 1 sekolah yang benar-benar siap secara infrastruktur kenormalan baru, yaitu SMKN 11 kota Bandung.

Beberapa contoh fasilitas yang disediakan SMKN 11 Bandung sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di sekolah

Berangkat dari pernyataan KPAI di atas, maka LPMP Jabar tidak berselang waktu yang lama langsung melakukan kunjungan ke lokasi SMKN 11 Kota Bandung, pada hari senin, 7 agustus 2020 untuk melihat secara langsung bagaimana protokol Kesehatan di sekolah dijalankan hingga memenuhi daftar periksa (ceklist) yang dipersyaratkan oleh kemdikbud dalam membuka KBM secara tatap muka langsung di sekolah di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

SMKN 11 Kota Bandung yang beralamat di Jalan Budhi Cilember Kota Bandung, letaknya 150 meter dari jalan utama, berada di lokasi pemukiman penduduk yang cukup padat. Sehingga, jika melewati jalan ini mungkin tidak terlihat ada sekolah, namun menuju lokasi ini sangat terbantu dengan plang nama sekolah  berwarna hijau  berukuran cukup besar dan strategis.

Proses kedatangan tim ke lokasi seperti pada umumnya di instansi yang lain, kami di cek suhu tubuh oleh satuan pengamanan sekolah dan diharuskan cuci tangan menggunakan hand sanitizer yang sudah tersedia depan gerbang masuk. Sebelum memasuki gerbang sekolah kami melewati chamber penyemprotan disinfektan, tapi tidak sampai memuat baju kami basah kuyup tentunya. Suasana nyaman, bersih dan asri yang kami rasakan pertama kali memasuki area sekolah ini. Selanjutnya kami diantar oleh  guru yang memakai rompi bertuliskan tim satgas covid-19 SMKN 11 ke ruang pertemuan yang rutin digunakan sebagai tempat rapat sekolah.

Dr. Anne Sukmawati KD, M.Mpd, yang saat ini menjabat sebagai Kepala di SMKN 9 Bandung, juga merangkap sebagai Plt Kepala SMKN 11 Bandung, menyambut dengan dengan penuh semangat, kemudian tanpa diminta beliau langsung menjelaskan proses dan aktivitas sekolah penyelenggaraan KBM di masa pandemic covid-19 secara gamblang dan terperinci. Berulang-ulang beliau selaku penggagas idenya menyatakan, persiapan yang kami lakukan tidak sekaligus tapi bertahap dan butuh waktu yang tidak sebentar, sejak bulan maret 2020 kami sudah berkutat dengan berbagai persiapan.

Secara umum SMK 11 Bandung melakukan persiapan pembelajaran di masa AKB ini  terbagi pada 2 kegiatan besar yaitu pertama, penyiapan protokoler Kesehatan dilakukan melalui beberapa tahap yaitu, pembentukan satgas covid-19, penyusunan covid-19, penyiapan tatanan sarana dan prasarana dan sosialisasi penerapan protokoler covid-19. Yang kedua penyiapan perangkat kegiatan pembelajaran blended learning melalui penyusunan kurikulum implementatif kolaboratif dengan beberapa tahap yaitu sistem penjadwalan blok, workshop dan pelatihan bagi guru, pembuatan bahan ajar dan modul serta evaluasi pembelajaran berbasis produk.

Penerapan SOP Protokoler covid -19 di SMKN 19 Bandung bagi setiap warga yang masuk ke area lingkungan sekolah, meliputi pakai masker ke sekolah, jaga jarak, selalu mencuci tangan, membawa peralatan sholat sendiri, membersihkan kursi dan meja sebelum dan sesudah dipakai, membawa bekal dari rumah (tidak ada kantin). Yang diwajibkan dibawa oleh siswa ke sekolah selain ATK dan buku pelajaran adalah hand sanitizer, peralatan makan, peralatan sholat, masker cadangan, dan makanan bernutrisi baik. Adapun penyiapan sarana prasarana yang mendukung diantaranya penyediaan APD, bahan disinfektan, westfael, sabun cuci tangan, hand sanitizer, thermo scanner, penyediaan ruangan isolasi preventif, face shield, pembuatan leaflt/pamphlet/video, penambahan bandwith internet sekolah, penggandaan bahan ajar, dan pelatihan guru.

Penerapan pola pembelajaran blended learning ala SMKN 11 Bandung adalah melakukan kombinasi daring dan luring. KBM daring pembelajran yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan LMS (Learning Management System), sedangkan KBM Luring menggunakan modul kolaboratif integratif (gabungan beberapa mata pelajaran). Modul ini dibuat dan dibagikan kepada seluruh siswa sebagai bahan ajar utama  pembelajaran di rumah. Penerapan ini sangat membantu siswa, karena tugas yang diberikan sekolah menjadi lebih ringan. Penugasan yang diberikan dalam bentuk projek yang merupakan gabungan beberapa mata pelajaran.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan protocol Kesehatan ini adalah proses edukasi dan sosialisasi yang harus terus menerus dilakukan oleh sekolah kepada berbagai pihak terutama kepada peserta didik. Proses edukasi dan sosialisasi ini dilakukan dengan berbagai strategi dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Hal ini ditegaskan oleh Anne bahwa penyiapan sarana prasarana protocol Kesehatan itu bisa cepat, tapi proses edukasi kepada peserta didik itu perlu proses dan waktu yang lama sehingga sampai saat ini kami belum berani melakukan KBM luring murni sekaligus, tapi bertahap mulai dari 10 % dari jumlah total peserta didik.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mengenai pembiayaan untuk seluruh persiapan dan pelaksanaan kegiatan ini, dengan jelas Anne yang telah menjabat sebagai kepala SMKN 11 Bandung kurang lebih 4 tahun menyampaikan bahwa seluruh kegiatan/program ini menggunakan dana BOS dan BOPD sebagai sumber utama selain itu juga dibantu dengan program kemitraan dari CSR, dan komite sekolah. Dalam waktu dekat ini pun sekolah akan memberikan bantuan pulsa kepada peserta didik menggunakan dana bos dan bekerjasama dengan salah satu operator seluler.

Di akhir kunjungan kami sampaikan, harapan kami agar sekolah-sekolah lain khususnya di provinsi Jawa Barat dapat melihat dan belajar dari SMKN 11 Bandung bagaimana menyiapkan berbagai perangkat yang diperlukan sehingga pada waktunya siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka di masa AKB. Selain itu pesan dari Plt Kepala SMKN 11 bandung ini, memohon kepada sekolah-sekolah agar tidak menganggap sepele untuk bisa membuka KBM tatap muka langsung tanpa dibarengi kesiapan berbagai ceklist yang dipersyaratkan, karena resikonya adalah keselamatan anak-anak dan guru-guru di sekolah.