Pesantren Kilat Saat Belajar Di rumah


Penulis

Tatang Sunendar *)

|

Sudah menjadi kelaziman saat bulan ramadhan tiba sekolah mengisinya dengan mengadakan kegiatan pesantren kilat bagi siswa dan siswinya, banyak  strategi yang dilakukan oleh sekolah dalam pelaksanan pesantren kilat seperti, anak dititip ke satu pesatren, dilaksanakan di sekolah dengan memberdayakan guru agama dan guru guru lainnya dan ada juga yang dilaksanakan di sekolah tetapi mengundang para asatizh  dari luar sebagai pengajar/nara sumber. Namun dengan dengan bencana pandemi covid 19 yang sedang melanda nampaknya strategi tersebut tidak mungkin dilakukan  di sekolah maupun di dititipkan  di pesantren.

Pesantren kilat
merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh sekolah pada saat bulan ramadhan
guna meningkatkan keimanan dan ketaqawan serta budi pekerti luhur siswa dalam
bentuk  aktualisasi habituasi/pembiasaan
hidup beragama dilingkungan sekolah. Dalam pesanten kilat terkandung beberapa
nilai diantaranya 1) adanya suasana kebersamaan dan kesederhanan 2). Adanya suasana
kekerabatan dan keluargaan 3) adanya peningkatan pengalaman, penghayatan dalam
praktek kehidupan sehari hari.

Dalam melaksanakan
pesatren kilat di sekolah umumnya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan  pedagogi. Guru/ustazh lebih dominan untuk
melakukan pembimbingan atau memimpin siswa/siswi untuk melaksanakan pengkajian
mendalam terkait keagamaan seperti baca tulis alquran, praktek shalat wajib
maupun sunah, materi akhlakul karimah, materi zakat, sejarah islam dll, teknik
yang dilakukan melalui praktik, diskusi, melihat tayangan film-film, belajar
pidato maupun debating. Disamping materi pokok, ditambahkan pula program kementrian
pendidikan dan kebudayaan tentang penguatan pendidikan karakter seperti lima nilai
inti PPK seperti religius, gotong royong, mandiri nasionalis, dan intergritas.

Dengan adanya
bencana pandemi covid 19 pendekatan pedagogik nampaknya sudah tidak mungkin
dilakukan mengingat siswa, guru, kepala sekolah, pesantren dan ustazh/ustazhah
dalam kondisi  belajar dirumah bagi siswa,
serta work from home bagi guru
gurunya, maka nampaknya pendekatan yang mungkin dilakukan adalah pendekatan heutagogi bahkan andragogi. Adapun materi
yang di pelajari pesantren kilat di rumah nampaknya tidak jauh berbeda terkait
dengan tulis menulis  alquran, praktek
shalat wajib maupun sunah, materi akhlakul karimah, materi zakat, sejarah islam
dll. Teknik yang dilakukan melalui praktik, diskusi, melihat tayangan film-film
dari youtube.  Lima nilai inti PPK seperti religius, gotong
royong, mandiri, nasionalis, dan intergritas.

Program pesantren kilat yang
dirancang oleh sekolah harus variatif dari sisi waktu, materi dan tujuannya. Maka
program yang dirancang bisa berupa paket paket kegiatan dengan pola 2 jam, 4
jam, 2 hari, dst., kegiatannya semisal : 1) mendengarkan murotal; 2) menyimak  praktek sholat di youtube; 3) program peduli kasih; 4) lomba kebersihan kamar
tidur/ruang belajar; 5) membuat  refleksi
diri;  6) membuat kaligrafi dll.

Paket program itu bisa
berupa induktif maupun induktif. Program tersebut sudah barang tentu dirancang
sesuai dengan karakteristik orang tua, lingkungan dan daya dukung orang tua.
Paket Kegiatan yang dirancang oleh sekolah lebih difokuskan untuk membuat anak
belajar tanpa merasa anak itu sedang belajar keagaamaan melainkan dilakukan
dengan situasi yang aktif, kreatif dan menyenangkan.serta tumbuhnya budaya
sopan santun, jujur, tanggung jawab, disiplin, gotong royong dan toleransi.

Pengembangan paket kegiatan pesantren
kilat berupa paket alternatif  saat
pandemi covid 19, oleh karena itu guru dan kepala sekolah bisa mengembangkan
sesuai dengan kondisi dan lingkungan masing masing, yang utama anak dan orang
tua tidak terbebani dengan tugas tugas akademik (keagamaan) yang diberikan
sekolah, paket kegiatan pesantren kilat yang dirancang oleh kepala sekolah
beserta gurunya menggunakan pendekatan heutagogi
yang menuntut anak belajar secara mandiri dengan berbasis proyek. Dalam setiap
program kepala sekolah dan guru diharapkan memberi penguatan atau pemaknaan
untuk setiap program yang diancang dan kalau 
bisa anak itu sendiri yang menemukan makna dalam setiap program kegiatan
yang dilakukannya. Dengan payung paket kegiatan akan memperkuat pemahaman siswa
terhadap pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari suatu paket kegitan tersebut.

Untuk mengukur
keberhasilan kegiatan pesantren kilat di rumah maka aspek yang dinilai
difokuskan pada penilain sikap dan ketrampilan melalui kegiatan observasi. Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan instrumen yang berisi sejumlah indikator perilaku
yang diamati.  Penilaian yang dilakukan
observasi tidak langsung dengan bantuan orang tua, pada proses observasi ini
sekolah meminta bantuan orang tua siswa untuk melakukan observasi terhadap
aktivitas putra putrinya selama melakukan pesatren kilat dari rumah dan bentuk
instrumennya hanya berupa chekclist
saja yang menyangkut nilai nilai kedisplinan, jujur, tanggung jawab, kerjasama,
sopan santun dan toleransi dengan jawaban misalnya: 1) selalu, sering,
kadang-kadang, tidak pernah; atau 2) sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik.

Selanjutnya menggunakan teknik penilaian diri, teknik ini merupakan
teknik penilaian dengan cara meminta siswa 
untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya, selama pesantren
kilat dirumah, pada teknik ini sekolah menugaskan siswa untuk membuat
tulisan/karangan atau refleksi diri berupa tulisan yang menggambarkan  aktifitas 
selama pesantren kilat  dirumah,
siswa disuruh untuk menuliskan  kegiatan
kegiatan yang ditugaskan  yang
dilaksanakan di rumah. Sekolah menilai  sikap saat pesantren  dirumah 
nampaknya hanya fokus untuk menilai adakah  konsistensi 
apa yang dituliskan oleh siswa dengan hasil observasi yang dilakukan
oleh orang tuanya.dari perbandingan tersebut sekolah/guru bisa menyimpulkan
terkait siswa selama pesantren kilat dari rumah dari proses itulah nilai sikap
siswa diperoleh.

Program pesantren kilat di
rumah yang dirancang sekolah membutuhkan sinergitas dan sikap gotong  royong antara 
kepala sekolah, guru, komite dan orang tua karena tanpa sinergitas dan
sikap gotong royong terjadi mispersepsi. Untuk program ini dibutuhkan inovasi
yang kreatif dari seorang kepala sekolah,  inovasi yang kreatif  tersebut bisa dirasakan oleh anak, orang tua
dan masyarakat, ada kata kata bijak yang mengatakan” proses tidak menghianati
hasil” proses merancang program pesantren kilat diyakini membutuhkan segala
daya dan upaya guru dan kepala sekolah namun andai kita melihat keberhasilan  dari program merupakan suatu nilai tambah
tersediri.bagi orang tua dengan kegiatan pesantren kilat  drumah diharapkan terciptanya suasana kebersamaan kesederhanan, keluargaan dan penghayatan dalam
praktek kehidupan sehari dari anak anak  dirumah ditengah bencana covid 19 dan paling
utama anak menyadari bahwa dirinya sebagai mahluk Allah Swt yang mempunyai
tanggung jawab atas dirinya,orang tua, negara dan Agama. Serta kita senatiasa
diberi ketengan dalam menghadapi badai bencana ini karena : “Orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28)
yang merupakan buah dari hasil pesatren kilat dirumah  …… semoga  ada 
cahaya  terang

Marhaban Ya
Ramadhan.

*) Dr H Tatang
Sunendar Msi, Widyaisawara Utama LPMp Jawa 
Barat.