parallax background

PEMUDA DAN LITERASI KEBANGSAAN

29 October 2018
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90 Tahun 2018 di LPMP Jawa Barat
29 October 2018
Workshop Penyusunan Template Laporan Akhir PMP
31 October 2018

PEMUDA DAN LITERASI KEBANGSAAN

Idris Apandi, M.Pd

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan

0878-2163-7667


Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Dalam perjalanan perjuangan meraih kemerdekaan RI, pada Kongres Pemuda II tanggal 26 sampai dengan 28 Oktober 1928 di Jakarta para pemuda berikrar untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk menyatukan semangat dan komitmen perjuangan seluruh elemen pemuda di Indonesia seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Selebes untuk bergabung melawan penjajah Belanda.

Perjuangan yang bersifat kedaerahan terbukti gagal mengusir penjajah. Oleh karena itu, hal ini menjadi pelajaran penting bagi semua elemen pejuang untuk mengesampingkan ego kelompok dan suku, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa. Para tokoh pemuda saat itu, seperti Soetomo, Wahidin Sudiro Husodo, Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Natsir, WR Supratman, dan para pemuda lainnya menjadi pelopor dalam pergerakan mencapai kemerdekaan.

Pada masa perjuangan melawan penjajah, para pemuda begitu heroik, pemberani, bersedia mengorbankan jiwa dan raganya, demi meraih kemerdekaan, dan mencapai puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam perjalanannya, pascakemerdekaan, hambatan dan tantangan mempertahankan tidak mudah, karena Belanda belum menerima kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, Belanda melakukan agresi pertama tahun 21 Juli 1947 dan agresi kedua tahun 19 Desember 1948, hingga akhirnya mengakui kemerdekaan RI melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tanggal 27 Desember 1949.

 
 
 

Hari Sumpah Pemuda ke-90 tanggal 28 Oktober 2018

 

Para tokoh pemuda saat itu, seperti Soetomo, Wahidin Sudiro Husodo, Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Natsir, WR Supratman, dan para pemuda lainnya menjadi pelopor dalam pergerakan mencapai kemerdekaan.

Pada tanggal 10 November 1945 terjadi perang perlawanan yang dipimpin oleh Bung Tomo, arek Suroboyo, pemuda pemberani dan nasionalis, dengan pekik Allaahu Akbar !!! memimpin para pejuang melawan tentara sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Pada masa kemerdekaan, para pemuda menjadi ujung tombak perjuangan merebut kemerdekaan. Dulu, musuh para pemuda adalah para penjajah dan perjuangannya bersifat fisik, tetapi pascakemerdekaan, tantangan yang dihadapi oleh para pemuda adalah berbagai masalah kebangsaan yang memerlukan peran pemuda untuk menjawab berbagai tantangan tersebut. Menjadi aktor pembangunan dan menjadi bagian dari solusi permasalahan.

 

Hal yang justru memprihatinkan adalah, banyak kalangan pemuda yang telah tidak tahu dan tidak tertarik untuk membaca sejarahnya sendiri. Hal ini berpengaruh terhadap rendahnya rasa kebangsaan. Oleh karena itu, rasa memiliki terhadap bangsa dan negara semakin menurun. Sikap yang muncul justru egois, individualistis, dan pragmatis.

Solidaritas dalam kelompok tampak lebih kokoh dibandingkan dengan solidaritas sesama anak bangsa. Kalau kelompoknya yang dihina, reaksinya sangat ekspresif bahkan mengedepankan emosi, tetapi ketika bangsa dan negaranya terhina, reaksinya dingin-dingin saja, seolah tidak menjadi masalah serius.

 
 
 

Para pemuda dihadapkan pada kehidupan hedonis dan materialistis, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, bermental instan, hingga bermental lemah. Narkoba menjadi lonceng kematian bagi para pemuda. Tahun 2015, BNN merilis data bahwa setiap hari ada 50 orang yang mati gara-gara narkoba. Yang pihak yang banyak disasar adalah anak-anak, pelajar, dan mahasiswa. Mereka adalah generasi muda yang diharapkan untuk melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa. Apa jadinya negeri ini kalau generasi mudanya banyak yang menjadi korban narkoba?

Saat ini pun bangsa Indonesia sedang menghadapi bahasa radikalisme dan gejala bangkitnya kembali komunisme. Sasaran yang paling empuk adalah para pemuda. Mereka banyak yang terpengaruh bahkan ikut menjadi bagian dari gerakan-gerakan tersebut. Ada sekian banyak warga negara Indonesia yang ikut menjadi anggota ISIS dan gerakan yang berbau komunisme.

Gaya hidup pemuda pun banyak yang terpengaruh gaya hidup barat. Lebih membangga-banggakan produk barat sedangkan budaya bangsa sendiri sudah banyak tidak kenali. Bahasa daerah sebagai bahasa identitas suku bangsa terancam punah karena telah sedikit yang menggunakannya. Bahkan bahasa Indonesia pun sudah banyak terrusak oleh bahasa-bahasa alay yang datangnya kadang musiman. Saat ini tengah populer ungkapan “kids zaman now” yang entah dari mana hal tersebut pertama kali muncul. Padahal apa susahnya mengucapkan kalimat “anak zaman sekarang?” mungkin biar terlihat lebih gaul dan lebih update.

 
 
 

Nasionalisme di kalangan pemuda harus ditingkatkan. Salah satu kuncinya adalah perlunya penguatan literasi kebangsaan. Literasi kebangsaan perlu diberikan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP, SMA/SMK sampai dengan perguruan tinggi. Caranya baik melalui pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, cerita, dongeng, dan sebagainya.

Pemuda harus diperkenalkan sejarah bangsanya. Jangan sampai mereka lupa terhadap sejarah bangsanya. Begitu berat kemerdekaan ini diraih. Berbasuh keringat, darah, dan air mata. Pada waktu tertentu mereka perlu membaca biografi pahlawan, ziarah kepada makam pahlawan, bersilaturahmi ke veteran pejuang yang masih hidup untuk mendoakan dan meneladani jasa-jasa mereka.

Pancasila sebagai ideologi bangsa perlu diperkenalkan, diketahui, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pasca reformasi, ditemukan realita bahwa banyak generasi muda yang jangankan memahami makna Pancasila, menghapal sila-sila Pancasila pun kesulitan, karena Pancasila terasing bahkan diasingkan dari kehidupan masyarakat.

 
 
 

Jika para pemuda zaman dulu menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan, pemuda zaman sekarang tentunya bisa menjadi pahlawan-pahlawan pembangunan. Disaat bahaya radikalisme dan mengancam, para pemuda harus menjadi agen-agen yang mengampanyekan semangat toleransi, semangat perdamaian, semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Bahaya disintegrasi bangsa saat tidak dapat dianggap enteng. Pemuda harus memiliki kepedulian terhadap kondisi bangsa yang memiliki tantangan semakin kompleks. Pemuda jangan tinggal diam. Harus memiliki daya kritis dan kepedulian. Mampu menawarkan alternatif solusi dari permasalahan bangsa. Pemuda harus menjadi pelopor dan lokomotif pembangunan. Wahai pemuda Bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya untuk Indonesia raya. Selamat hari sumpah pemuda. ***

Comments are closed.