Menelisik Mahluk yang Bernama AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)

Penulis : Rina Mutaqinah (Widyaparada, LPMP Jawa Barat)

Tantangan abad 21 dan revolusi industri 4.0 berdampak terhadap adanya distrupi pekerjaan, dengan teknologi yang ada saat ini, terdapat 9% pekerjaan yang 90% – 100% aktivitasnya dapat diotomasi (misalnya buruh  perakitan dan operator mesin). Selain itu, masih terdapat 42% pekerjaan yang lebih dari 50% aktivitasnya dapat diotomasi. Berdasarkan laporan World Economic Forum, 2015 dan 2016, pekerjaan yang membutuhkan kemampuan bernalar dan interpersonal seperti psikiater dan legislator merupakan di  antara jenis pekerjaan yang tidak banyak terdampak otomasi. Hal ini berarti meningkatnya kebutuhan dunia kerja  terhadap keterampilan aras tinggi (High-Order Skills).

Fakta saat ini menunjukkan perolehan hasil PISA tahun 2019 tepatnya 3 Desember 2019, anak-anak Indonesia menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, Indonesia berada pada peringkat 72 dari 77 negara untuk skor PISA, skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Tiga skor itu kompak menurun dibandingkan hasil dari tes PISA 2015. Kala itu, skor membaca Indonesia ada di peringkat 65, skor sains peringkat 64, dan skor matematika peringkat 66.

Oleh karena itu kita dituntut khususnya pemerintah memperbaharui orientasi dan strategi pendidikan yang unggul berdaya saing tinggi dan menguasai keterampilan dasar abad 21. Berbagai upaya dilakukan pemerintah, antara lain program merdeka belajar, salah satu programnya yakni dihapusnya Ujian Nasional (UN), disederhanaknnya RPP serta dibentuknya model-model komunitas, sekolah dan guru penggerak yang memiliki pengalaman praktik baik dalam pembelajaran dan semangat untuk mengajak, menggerakkan komunitas/ sekolah dan guru lainnya untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik.

Dengan dihentikannya Ujian Nasional (UN) melalui surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 43 Tahun 2020, Pemerintah meluncurkan Asesmen Nasional (AN) yang terdiri dari tiga instrumen yakni: AKM, Survey Karaker dan Survey Lingkungan bagi Siswa sedangkan bagi Guru dan Kepala Sekolah adalah Survey Lingkungan Belajar, AN bertujuan untuk memetakan mutu pendidikan di Indonesia. Berdasarkan tujuannya AN sama dengan akreditasi dan PMP (Pemetaan Mutu Pendidikan) yang selama ini sudah berlangsung di seluruh satuan pendidikan di Indonesia, namun secara teknisnya tentu beda dengan akreditasi dan PMP. Jadi AN bukan pengganti UN, tetapi mahluk baru dalam pemetaan mutu pendidikan.

Hal unik yang perlu kita cermati dalam AN adalah AKM, AKM merupakan asesmen baru untuk mengukur kompetensi siswa dalam literasi dan numerasi (literasi matematika). Berbeda dengan asesmen lainnya seperti UN, AKM tidak mengukur penguasaan konten mata pelajaran tetapi yang diukur adalah basic competence (dimensi kognitifnya) yang bersifat laten dalam diri siswa atau latent variable. Basic competence dalam ranah kognitif merupakan kompetensi yang terbentuk berdasarkan pembelajaran yang dilakukan dalam jangka waktu relatif panjang dan lama (longterm learning) sehingga tidak bisa diajarkan atau dilatihkan dalam waktu yang pendek (drilling). Komponen yang diujikan pada AKM antara lain:

Soal-soal AKM mengacu pada framework TIMSS dan PISA karena diharapkan dapat meningkatkan capaian nilai TIMSS dan PISA yang selama ini menjadi tolok ukur capaian kompetensi hasil belajar yang diakui seluruh negara di dunia.

Pembelajaran  yang Mendongkrak Meningkatnya Hasil AKM (Literasi & Numerasi)

Kurikulum di Indonesia khususnya kurikulum 2013 mengembangkan capaian kognitif berdasarkan taksonomi Bloom revisi Anderson & Karthwohl 2001, sedangkan AKM berdasarkan dimensi kognitif literasi dari Barrett  (The Barrett Taxonomy) dan framework TIMSS. Tentunya hal ini tidak inline antara desain, proses dan penilaian pembelajaran yang dilakukan guru didalam kelas yang menggunakan paradigma Bloom dengan taksonomi kognitif AKM yang diujikan kepada siswa, namun demikian,  dimensi kognitif Bloom yang mendasari kurikulum kita jika dibelajarkan kepada siswa dengan baik, tuntas dan optimal ditambah dengan mengimplementasikan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) tentunya berdampak juga pada kompetensi lainnya seperti literasi dan numerasi, dapat dicermati perbedaan dan persamaannya sebagai taksonomi Bloom dan Barrett berikut:

Taxonomy Bloom Taxonomy Barrett Framework TIMSS
(1) Mengingat

(2) Memahami

(3) Menerapkan

(4) Menganalisis

(5) Mengevaluasi

(6) Mencipta

(1) Pemahaman harfiah

(2) Reorganisasi

(3) Pemahaman inferensial

(4) Evaluasi

(5) Apresiasi

(1) Pemahaman/ Knowing

(2) Penerapan/ Applying

(3) Penalaran/ Reasoning

Taksonomi Barret dikembangkan untuk pembentukan kognitif  kompetensi literasi, walaupun terdapat perbedaan orientasi dalam kedua taksonomi kognitif ini, pembelajaran yang dilakukan guru masih tetap relevan asalkan guru dapat berinovasi untuk mengembangkan pembelajaran kreatif dengan mengembangkan kegiatan pembelajaran baik berupa kurikuler, ekstrakurikuler kaitan dengan literasi maupun pembiasaan literasi.

Selama ini pembiasaan literasi sudah dijalankan oleh guru/ sekolah melalui GLS (Gerakan Literasi sekolah) jadi diuji melalui AKM mestinya dapat mengukur level kognitif dalam literasi yang mereka sudah ikuti selama di bersekolah.

 

Perubahan Orientasi Pembelajaran

Setelah hasil AKM ini dipetakan, guru dihadapkan pada tantangan baru untuk menciptakan model-model pembelajaran yang dapat memicu munculnya kompetensi literasi dan numerasi, disamping keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Desain pembelajaran yang tertuang dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) serta proses dan penilaian pembelajaran harus mulai ada reorientasi dengan menambahkan indikator-indikator yang termasuk pada taksonomi Barrett (literasi) serta strategi dan model-model pembelajaran yang menuntut siswa memiliki kompetensi literasi, numerasi atau berpikir analitis, kritis, kreatif, reflektif. Pertanyaannnya, bagaimana guru menyadari dan mau melakukan perubahan dalam pembelajaran? Bagaimana dengan materi pembelajaran yang padat, dapatkan kompetensi kognitif ini diakomodir dalam pembelajaran dengan kurikulum saat ini?

Perlu pemikiran yang mendalam dan kerja keras untuk mentransformasi pembelajaran yang dilakukan guru di ruang kelas, salah satunya mengubah paradigma learning to read menjadi reading to learn. Bagaimana siapkah Bapak Ibu guru untuk berubah?.

 

Penulis : Rina Mutaqinah (Widyaparada, LPMP Jawa Barat)