Ibu Multitasking

Memilih Berkarir atau Keluarga? Atau Kedua-duanya?

 

Pagi hari  merupakan saat-saat yang paling sibuk bagi para ibu pekerja. Suara bising televisi, rengekan anak-anak yang tidak mau mandi berbaur dengan suara beradunya penggorengan di atas kompor menambah heboh suasana. Namun hal ini berbanding terbalik, ketika jam sudah menunjukan pukul 6.30 pagi, suara hening menyeruak ke seluruh sudut ruangan, ingin rasanya merebahkan diri diatas kasur semenit atau dua menit, untuk sekedar meluruskan punggung atau baca-baca pesan whatsapp yang sudah tertinggal sejak tadi malam. Ternyata ini hanya sekedar keinginan saja, realitanya masih ada setumpuk pekerjaan yang sudah menunggu di kantor untuk di selsesaikan.

Jika tidak ingat kewajiban, jenuh rasanya menghadapi rutinitas ini, apalagi ketika pekerjaan di kantor sudah menumpuk dan dikejar-kejar deadline. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan ibu pekerja. Memilih berkarir atau keluarga? Atau kedua-duanya? Bisakah?

Memang bekerja atau mencari nafkah adalah kewajiban suami, sebagai salah satu fungsi kepala keluarga. Tetapi ada juga istri ikut mencari nafkah untuk membantu suami atau sekedar memanfaatkan ilmu yang sudah diperoleh semasa di bangku kuliah dan ingin diimplementasikan di tempat kerja. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula jika seorang wanita dapat berperan ganda, dia berfungsi sebagai seorang istri/ibu dan berkarir.

Allah SWT telah menciptkan wanita itu memiliki otak yang dapat bekerja secara multitasking. Penelitian yang dilakukan oleh dokter Svetlana Kuptsova, dengan melakukan scan MRI kepada otak pria dan wanita. Disaat mereka dihadapkan dengan beberapa pekerjaan sekaligus, teruangkap bahwa, otak kedua gender ini merespon dengan reaksi yang sangat berbeda, di mana otak pria membutuhkan lebih banyak energi untuk mengatasi pekerjaan-pekerjaan yang datangnya tiba-tiba secara bersamaan, dibandingkan dengan otak wanita.

Kemudian peneliti dari Glasgow, Leeds, dan Hertfordshire University melakukan penelitian lebih spesifik lagi, diantaranya adalah pada saat peserta diberikan suatu permainan komputer yang didesain dengan fokus perhatian yang cepat berubah-ubah, performa wanita ternyata sedikit mengungguli pria. Begitu pula dengan percobaan yang kedua, saat para peserta diminta untuk menyelesaikan sejumlah soal matematika, mencari lokasi suatu restoran tertentu pada peta, mencari suatu barang yang hilang serta sesekali menjawab sejumlah pertanyaan wawasan umum melalui telepon. Meskipun baik pria maupun wanita mampu membuat perencanaan dengan baik, namun perhatian pria seketika terganggu tatkala situasi-situasi tersebut datang dalam waktu yang nyaris bersamaan (multitasking).

Sejak dulu keseharian wanita dibiasakan melakukan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak-anak sekaligus, secara historis memang “mengharuskan” wanita untuk mampu berfikir dan bekerja secara “multitasking”. Di zaman sekarang beban seorang wanita berkarir ditambah dengan pekerjaan di kantor

Permasalahan baru timbul, ketika seorang wanita berperan ganda, sebagai istri/ibu sekaligus sebagai wanita karir, yaitu mereka gampang sekali tertekan dan berujung stress. Hal ini tentu saja sangat tidak diinginkan oleh siapa pun. Untuk menghindarinyai, ada tips yang bisa dilakukan oleh ibu pekerja, yaitu “jangan terlalu keras pada diri sendiri”. Seandainya ada suatu hal yang tidak bisa dilakukan bersama-sama (misalnya memilih mengantar anak ke acara performance sekolah atau meeting dengan atasan), pilih salah satu yang dianggap lebih prioritas, diskusikan dengan suami atau atasan pilihan mana yang bisa dianggap lebih win win solution. Pada saat hari libur, cari waktu untuk me time, sekedar jalan-jalan ke mall, ke salon atau melakukan hal-hal yang paling disukai. Banyak berdiskusi dengan teman yang memiliki problem yang sama, untuk sharing atau sekedar melepaskan beban saja. Satu lagi hal yang sangat penting, ingatlah bahwa apa yang kita lakukan untuk keluarga adalah sesuatu yang sangat baik dan akan menghasilkan sesuatu hal yang sangat baik pula, yaitu pahala yang terhingga dari Allah SWT, kuncinya sabar, ikhlas dan bertawakal.

Seorang wanita berperan “multi”, sebagai seorang istri, ibu dan berkarir akan menjadi suatu keniscayaan. Keluarga yang harmonis, anak-anak yang tumbuh sehat dan cerdas serta karir yang menanjak akan tercapai jika kita pandai mengelola waktu serta tidak terlalu keras dan memaksakan pada diri sendiri. Bagaimanapun seorang ibu atau istri itu harus bahagia, jangan stress atau tertekan. Karena bahagianya ibu adalah bahagianya keluarga.

 

Penulis – Nurbani

More kunaon.net