Keteladanan Dibalik Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

 

Penulis :

Nurbani | Editor : Yusi Irwianie G

 

Kab. Bandung – Idul Adha atau yang dikenal dengan Hari Raya Haji merupakan hari raya umat Islam yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hari raya ini dikenal juga dengan istilah “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji yang utama, yaitu wukuf di padang Arafah. Idul Adha dikenal juga dengan nama “Idul Qurban”. Kurban atau Qurban,yang berarti dekat atau mendekatkan atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan.

Momen Idul Adha tidak dapat dilepaskan dengan kisah teladan keluarga Nabi Ibrahim AS. Peristiwa itu tercantum dalam Quran Surah Ash-Saffat ayat 100-103. Kala itu, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar sangat menantikan kehadiran calon buah hati mereka. Untuk itu lah mereka tak henti meminta kepada Allah SWT. agar diberikan keturunan yang dapat melanjutkan misi dakwahnya.

Kemudian datanglah malaikat yang membawa kabar gembira bahwa mereka akan dikaruniai seorang putra yang cerdas lagi sabar, yaitu Nabi Ismail AS. Setelah nabi Ismail dilahirkan, datanglah perintah Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya, ditempatkan di suatu tempat paling asing. Namun Nabi Ibrahim, dan istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Ujian yang di datangkan Allah SWT tidak cukup sampai disana, setelah Nabi Ismail AS menginjak usia remaja, Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah dari Allah Swt. melalui mimpi untuk menyembelih putra semata wayangnya tersebut.

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” ucap Ibrahim kepada Ismail, sesuai surat As-Saffat ayat 102.

Dengan berserah diri kepada Allah, tanpa ragu Ismail mengemukakan jawabannya.

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” balas Ismail.

Lalu nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT tersebut,  namun Allah mengutus malaikat untuk mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba.

“‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” firman Allah dalam surat As-Saffat 104-107

Kemudian kisah ini menjadi titik awal kemunculan Idul Adha atau Idul Qurban, yang juga bertepatan dengan kegiatan pelemparan jumrah bagi jamaah haji.

 

Tindakan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS merupakan ibadah agung yang penuh keikhlasan karena merelakan anak kesayangannya yang sudah diidam-idamkan sejak sangat lama untuk di serahkan kepada Allah SWT. Untuk meneladani kisah ini, umat Islam disunahkan untuk berkurban. Ibadah ini sekaligus melatih keikhlasan untuk memberikan sebagian harta yang dicintai kepada Allah.

Keikhlasan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS adalah karena dirinya menyadari bahwa semua yang dimilikinya saat ini adalah sekedar titipan dari Allah SWT. Dulu Nabi Ibrahim memiliki “sesuatu” yang sangat didambakan yaitu putra kesayangannya Nabi Ismail AS. Namun “sesuatu” yang kita miliki dan dambakan saat ini dapat berupa harta, jabatan, keluarga, prestasi, seseorang yang paling engkau sayangi, bahkan sesuatu yang sangat engkau pertahankan di dunia ini.

Sebenarnya yang di kurbankankan oleh Nabi Ibrahim AS kala itu bukanlah putranya, melainkan rasa kepemilikannya terhadap Nabi Ismail AS. Segala sesuatu yang kita miliki di dunia hanyalah titipan dari Allah, maka kita perlu belajar untuk ikhlas ketika semua harus kembali kepada pemiliknya serta menjaganya dengan baik selagi masih diamanahkan kepada kita.