Ingin Memarahi Anak? Orangtua, Perhatikan Dulu 7 Hal Ini

Ada banyak hal dapat memicu orangtua memarahi anak; tidak mematuhi nasehat atau peraturan orangtua, anak yang membuat ulah merusakkan atau mengacaukan sesuatu. Namun tidak jarang, orangtua juga harus menghadapi kondisi yang bisa membangkitkan emosi, bisa karena lelah pulang kerja, atau lelah dengan pekerjaan rumah tangga. Tanpa disadari tak jarang orangtua melimpahkan amarah kepada anak lantaran tekanan beban kehidupan tersebut. Maka, kurang bijaksana jika orangtua begitu saja menumpahkan amarah kepada anak. Anak membutuhkan kasih sayang, kelembutan, dan stimulasi positif untuk pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikisnya. Maka, orangtua yang bijak hendaknya memahami hal ini, sehingga tidak begitu saja melampiaskan rasa marah kepada anak. Sikap atau ucapan keras ataupun kasar sangat tidak layak dilontarkan kepada anak. Dirangkum dari laman Ruang Guru PAUD Kemendikbud, berikut 7 hal harus dicermati orangtua ketika menasehati anak:

  1. Tetap bersabar

Saat rasa amarah mulai timbul, orangtua harus pandai-pandai mengatur emosi. Orangtua harus bersabar agar tidak terlontar ucapan atau sikap yang negatif. Cara yang bisa dilakukan misalnya menarik nafas panjang, beristighfar, mengambil posisi duduk atau bersikap diam tanpa berkata-kata untuk sesaat.

  1. Tidak ucapkan kata negatif

Contohnya, “Sudah Mama bilang, sekarang harus makan! Biar saja, kalau nggak mau makan, biar diare sekalian!” (Salah). “Ayo kita makan Dek, supaya nggak masuk angin. Kalau masuk angin, perut bisa sakit, nanti nggak bisa main lho.” (Benar)

“Makanya, jangan manjat-manjat pohon. Sekarang tahu sendiri rasanya kan?! Benjol deh, kepala Kakak!” (Salah). “Pohon itu licin, Kak.. makanya Mama bilang, mainnya di bawah pohon saja. Kalau jatuh begini nggak enak kan. Yuk, kita obati kepalanya. Lain kali nggak diulang lagi ya” (Benar)

  1. Berikan alasan mengapa melarang

Misalnya, “Kakak mainnya di dalam rumah saja ya, karena di luar sedang hujan. Kalau hujan-hujanan nanti Kakak bisa sakit. Kalau sakit, besok hari Minggu nggak bisa jalan-jalan lho..”, atau “Kakak, kalau main air di dalam rumah nanti lantainya jadi licin. Kalau licin, nanti Kakak bisa terpeleset. Ayo, main airnya di luar saja ya..”

  1. Menyampaikan cara yang benar

Contohnya, “Kok enak saja langsung makan. Mau sakit perut ya?!” (Salah). “Dedek, sebelum makan harus cuci tangan dulu ya, supaya tidak sakit perut.” (benar). “Aduh, berserakan semua mainannya!” (Salah). “Dedek, kalau sudah selesai main, mainannya disimpan di kotak mainan, seperti ini… Bukan diserakkan di lantai ya.” (Benar)

  1. Tidak menggunakan kata “jangan”

Ganti kata “jangan” dengan kalimat yang menunjukkan maksud orang tua. Misalnya: jangan merengek! Coba bicara yang jelas, ya. Jangan teriak-teriak! Coba bicaranya yang pelan. Jangan lari-lari! Ayo, jalan saja, ya. Jangan mainin HP mama! Mama pinjam Hpnya. Dedek main boneka saja, ya. Jangan nendang-nendang pintu! Kaki untuk berjalan. Kakinya untuk nendang bola saja yuk.

  1. Gunakan seruan bersifat positif

Hindari berkata: awas, minggir, heh, hayo! Tapi ganti dengan astaghfirullah, hati-hati, maaf, bukan. Anak sering melakukan tindakan yang mengejutkan orangtua, sehingga secara spontan orangtua akan menyerukan kata-kata tertentu. Seruan negatif atau kasar bisa diganti dengan seruan positif. Jika dibiasakan seruan positif akan reflek kita ucapkan saat terkejut. Misalnya: Awas jatuh! diganti hati-hati. Minggir sebentar! diganti maaf, Mama bawa air panas. Heh, temannya kok dipukul! tapi diganti Maaf, tangan untuk menulis, ya.

  1. Tetap ungkapkan kasih sayang

Ketika suasana sudah tenang, sampaikan dengan lemah lembut alasan mengapa tadi orangtua memarahi anak. Lalu meminta maaf dan memohon kepada anak agar tidak mengulangi perbuatannya. Selanjutnya, ungkapkan kasih sayang dengan sentuhan, misalnya dengan pelukan, kecupan, usapan di tangan, di kepala, di bahu atau di punggung. Misalnya: “Kak, maaf tadi Mama marahin Kakak. Lain kali kalau pergi main pamit atau bilang dulu ya. Kan Mama kuatir terjadi sesuatu dengan Kakak.” “Dek, maaf tadi Papa marahin Dedek. Lain kali main dengan mainan Dedek ya, bukan dengan laptop Papa, karena laptop Papa buat keperluan kerja.” Demikianlah hal-hal yang perlu dicermati orangtua saat memarahi anak. Sebelumnya, mulai coba lewat menasehati dengan baik dan lembut.

Sumber : edukasi.kompas.com