Antusiasme Pegawai FPMP Dalam Mengikuti Kegiatan Sosialisasi ZI WBK

Warga seksi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan (FPMP), menyimak penjelasan dari Tim WBK dalam rangka sosialisasi ZI WBK di lingkungan LPMP Jawa Barat.

Kab. Bandung Barat, LPMP Jawa Barat – Tim Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK) gencar melakukan sosialisasi kepada seluruh pegawai di LPMP Jawa Barat salah satunya di Seksi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan (FPMP). Zona integritas merupakan predikat bagi lembaga yang melakukan WBK. Reformasi Birokrasi merupakan perubahan paradigma dan tata kelola dalam pemerintahan menuju good and clean governance. Pemahaman dasar ini ditanamkan kepada pegawai agar menjadi perhatian untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik.

“Sekecil
apapun yang kita lakukan akan berdampak untuk semua, entah itu kebaikan atau
keburukan”
begitu
kata Kasi FPMP Neni Niawati ketika memberikan pengantar sebelum sosialisasi
dimulai dan terus ditegaskan sepanjang sosialisasi dilaksanakan. Mengingat
untuk mendapatkan predikat lembaga dengan label WBK perlu usaha yang tidak
hanya dilakukan oleh jajaran pimpinan saja tapi seluruh warga LPMP Jabar. WBK bukan
sekedar sertifikat tapi sebuah budaya mutu.

Narasumber
yang memberikan sosialisasi merupakan Tim ZI WBK internal LPMP dengan
menyampaikan enam pengungkit ZI WBK, yaitu 1) Manajemen perubahan; 2) Penataan
tatalaksana; 3) Penataan sistem manajemen SDM; 4) Panguatan akuntabilitas; 5)
Penguatan pengawasan; 6) Peningkatan kualitas pelayanan publik. Sebanyak 17
staff FPMP menyimak dengan antusias seluruh materi yang disampaikan, yang unik
adalah tidak hanya menyampaikan materi tapi narasumber juga memberikan contoh
langsung serta mempraktekan komitmen dari keenam pengungkit tersebut.

Salah satu
pengungkit yang paling terasa adalah pengungkit pertama yaitu Manajemen
Perubahan yang disampaikan oleh Tatang Sunendar salah satu widyaiswara di LPMP
Jabar. “Kalau dulu ISO masih parsial sedangkan WBK lebih ke budaya mutu
untuk itu mulai dengan 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang, mulai
dari hal kecil”
ujar beliau ketika menegaskan tentang materi manajemen
perubahan.

Tidak
dipungkiri usaha lembaga untuk membentuk ZI WBK sangat terasa, mulai dari
setiap memulai bekerja serta sebelum bekerja selalu melakukan internalisasi
diri. Pada internalisasi ini setiap pegawai mulai untuk menghafalakan tugas
dari setiap jabatan sehingga membentuk rasa tanggung jawab pada masing masing
pegawai.

Tidak cukup
enam pengungkit tersebut, untuk menyandang lembaga WBK masih ada survei yang
harus dipenuhi, bobotnya adalah 40% sedangkan untuk pengungkit adalah 60%.
Survei yang dilakukan ada dari internal ada juga dari eksternal. Survei
internal yaitu meliputi survei pelaksanaan praktik reformasi birokrasi; survei
integritas jabatan; dan survei integritas organisasi. Sedangkan untuk survei
eksternal yaitu survei pesepsi korupsi dan persepsi kualitas pelayanan. (Dok.
LPMP Jawa Barat)

Asri Nur
Azizah – LPMP Jawa Barat