parallax background

ANALISIS KEBUTUHAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEN DIGITAL

7 November 2018
Workshop Penyusunan Template Laporan Akhir PMP
31 October 2018
Program Penguatan Pendidikan Karakter LPMP Jawa Barat Tahun 2018
22 November 2018

ANALISIS KEBUTUHAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEN DIGITAL

Studi Kasus di SMP Negeri 1 Tomo, Kabupaten Majalengka

Rini Pepa Wiratin

Pengembang Teknologi Pembelajaran Pertama LPMP Jawa Barat


Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak terhadap kehidupan manusia, adanya teknologi dalam mengerjakan sesuatu dapat menjadi lebih mudah, terotomatisasi, bahkan yang awalnya tidak menarik menjadi menarik.

Kebutuhan terhadap teknologi sudah merambah untuk segala bidang salah satunya sebagai sarana pendidikan. Teknologi pendidikan mempunyai fungsi dalam proses pembelajaran untuk mengatasi berbagai kesulitan dan mempermudah proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik dan kondisi dimana teknologi tersebut diterapkan. (Rini, 2013).

Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan salah satu solusi yang dapat memudahkan pendidik dalam menyampaikan pesan atau materi yang akan disampaikan kepada siswa, namun kenyataannya belum semua pendidik mampu membuat dan menggunakan media yang memanfaatkan teknologi dalam menunjang proses pembelajaran, oleh karena itu beberapa dampak yang dirasakan oleh siswa, pembelajaran kurang menarik dan membuat jenuh siswa.

 
 
 

 

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat sesuai dengan Permendikbud Nomor 37 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Pasal 3 ayat d memiliki tugas, fasilitasi peningkatan mutu pendidikan terhadap satuan pendidikan dasar dan menengah dalam penjaminan mutu pendidikan.

Berdasarkan hasil raport mutu capaian standar proses untuk Kabupaten Majalengka jenjang SMP, mempunyai nilai capaian 5,87 (kategori menuju SNP 4), dari indikator yang dikembangkan dalam standar tersebut salah satu sub indikatornya adalah memanfaatkan media pembelajaran dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran masih berada pada nilai 6.08 artinya nilai tersebut belum mencapai SNP, dalam hal ini dikatakan telah mencapai SNP jika berada pada rentang nilai 6.67 s.d 7.

Guru sebagai pendidik mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjalankan efektifitas pembelajaran di kelas, salah satu indikatornya adalah guru harus mampu memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pembelajaran. Teknologi pendidikan mempunyai fungsi dalam proses pembelajaran mengatasi berbagai kesulitan dan mempermudah proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik dan kondisi dimana teknologi tersebut diterapkan.

 

Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) LPMP Jawa Barat sebagai salah satu fungsional tertentu merasa perlu untuk mengembangkan suatu program yang menyentuh langsung kepada pendidik dalam meningkatkan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan media pembelajaran konten digital (berbasis IT).

Langkah awal dalam mengidentifikasi kebutuhan pengembangan sistem/ model/ media pembelajaran adalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Menurut Bambang Warsita dan Purwanto kegiatan analisis kebutuhan merupakan suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality).

 
 
 

Dalam prosesnya, kegiatan analisis kebutuhan dilakukan melalui beberapa tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, pengolahan data, analisis dan penyusunan laporan. Analisis kebutuhan ini dilakukan terhadap guru – guru di salah satu sekolah model sasaran tahun 2017, yang pada tahun 2018 menjadi sekolah rujukan yaitu SMP Negeri 1 Tomo Kab.Majalengka, kegiatan ini dilaksanakan tanggal 18 Oktober 2018 , sedangkan penjaringan data melalui angket online terkait kebutuhan dalam pemanfaatan media pembelajaran konten digital yang akan dijadikan sebagai bahan bimbingan teknis.

Instrumen dikembangkan dalam 3 (tiga) Aspek dan dijabarkan menjadi 7 (tujuh) pernyataan dengan masing – masing diberikan 4 (empat) kategori, pengolahan data menggunakan analisis deskriptif.

 

Tabel 1. Kisi – kisi Instrumen Analisis Kebutuhan Pengembangan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran Berbasis Konten Digital

 
 
 

Dari hasil pengisian responden dan pengolahan data maka diperoleh hasil sebagai berikut (data yang disajikan dalam bentuk prosentase dengan nilai tertinggi 100%).

 

1. Kemampuan Guru dalam Pemanfaatan dan Pengembangan media Pembelajaran.

 
 

a. Frekuensi guru dalam menyampaikan pembelajaran dengan menggunakan media.

 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut sebanyak 44% guru selalu menyampaikan materi pembelajaran dengan meggunakan media pembelajaran, hal ini sesuai Permendikbud No. 22 mengenai standar proses, bahwa media pembelajaran merupakan komponen penting dalam membantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran, namun masih ada 11% guru yang menyatakan tidak pernah, sehingga perlu ditindaklanjuti dengan pembinaan dan pendampingan terhadap guru tersebut.

 

b. Jenis media pembelajaran yang sering digunakan oleh guru.

 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut jenis media pembelajaran yang sering digunakan guru adalah bentuk audio/visual yaitu sebanyak 42% disusul dengan media cetak sebanyak 38% dan multimedia sebanyak 21%, sedangkan untuk media digital berbasis IT (web) belum ada yang memanfaatkan dan mengembangkannya, guru perlu didorong untuk senantiasa memanfaatkan media digital sebagai media pembelajaran sesuai dengan kecakapan abad 21, tentang literasi digital.

 

c. Frekuensi guru dalam pengunaan media pembelajaran berbasis IT

 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut sebanyak 48% guru sering menyampaikan materi pembelajaran dengan meggunakan media pembelajaran berbasis IT, sedangkan sebanyak 52% menyatakan jarang, sesuai Permendikbud No. 22 mengenai standar proses, prinsip pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi, bahwa guru harus mempunyai kompetensi dalam memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran, sehingga jika diperlukan sekolah harus mempunyai program/kegiatan dalam meningkatkan kompetensi guru sehingga “melek” IT.

 

2. Sarana dan Daya Dukung Sekolah.

 
 

a. Dukungan Sekolah dalam pengembangan media pembelajaran

 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut sebanyak 70% guru menyatakan bahwa dukungan sekolah dalam pengembangan media pembelajaran sudah baik, artinya guru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran yang sudah difasilitasi oleh sekolah.

 

b. Ketersediaan media pembelajaran dan perangkat media pembelajaran berbasis IT di sekolah

 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut sebanyak 4% guru menyatakan bahwa ketersediaan media pembelajaran dan perangkat media pembelajaran berbasis IT sudah sangat memadai dan 59% memadai, namun sebanyak 35% menyatakan kurang memadai dan 2% tidak memadai, perlu diperhatikan dari pernyataan yang kurang/tidak memadai tersebut apakah dikarenakan kurang tersosialisasikannya keberadaan media pembelajaran tersebut, sehingga diperlukan suatu tempat khusus dan sosialisasi terkait dengan media pembelajaran yang sudah ada dan dapat dimanfaatkan oleh semua guru di sekolah tersebut ataukah dari segi kemampuan dan kompetensi guru dalam memanfaatan dan mengembangkan media tersebut.

 

3. Kebutuhan Guru dalam Peningkatan Kompetensi Pemanfaatan dan Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Konten Digital/IT

 
 
 
 

Berdasarkan grafik tersebut yang menyatakan 54% sangat penting dan 46% penting, hal ini berarti bahwa semua guru memerlukan peningkatan kompetensi pemanfaatan dan pengembangan media pembelajaran berbasis konten digital/IT, sesuai dengan tantangan abad 21, dalam harian republika.co.id bahwa karakteristik siswa di zaman milenial yaitu sangat aware teknologi, warga global, otentik, liberal, progresif, percaya diri, dan berorientasi tim, sehingga sejalan dengan hal tersebut guru abad 21 harus mempunyai sejumlah karakteristik yang tepat untuk mengajar siswa milenial. Karakteristik tersebut antara lain menjadikan siswa sebagai producer, belajar teknologi baru, berwawasan global, siap dengan era digital, berkolaborasi, pembelajaran berbasis proyek, dan terus berinovasi, sehingga guru harus termotivasi untuk senantiasa meningkatkan kemampuan dan kompetensinya salah satunya dalam bidang IT.

 

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran masih bervariatif, namun guru mempunyai semangat dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan dan wawasan terutama dalam bidang IT, dengan begitu daya dukung satuan pendidikan dalam memberikan kesempatan kepada guru untuk memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran baik dalam sarana dan prasarana ataupun peningkatan kompetensi guru melalui program IHT, Bimtek ataupun pendampingan sangat diperlukan dan LPMP Jawa Barat dapat memfasilitasi guru – guru dengan mengadakan bimbingan teknis terkait dengan pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran konten digital.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan. Jakarta. Kemendikbud

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta. Kemendikbud.

Warsita Bambang dan Purwanto. 2014. Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran. Jakarta. Pustekkom

Pepa Wiratin, Rini. 2013. Evaluasi User Interface untuk Produk i – Digital Museum dengan Menggunakan Metode Heuristik. Tesis pada Teknik Elektro ITB Bandung : Tidak diterbitkan.

Hasil Raport Pemetaan Mutu Pendidikan Kabupaten Majalengka Tahun 2017. http://pmp.dikdasmen.kemdikbud.go.id/pengiriman/progres

Redaksi Harian Republika Online. Tantangan Guru Mengajar Siswa Milenial. 2018. https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/02/03/p3kdiu374-ini-tantangan-guru-mengajar-siswa-milenial

Comments are closed.